Lewati ke konten
MizuvoxPanduan wisata, kuliner & gaya hidup Jakarta
Wisata

Sarinah: Mal Legendaris Jakarta yang Lahir Kembali

Pusat perbelanjaan pertama Indonesia kini tampil modern sambil merayakan seni dan produk lokal.

Oleh Tim Redaksi Mizuvox · Diperbarui · 6 menit baca

Sarinah

Di Jalan M.H. Thamrin berdiri sebuah gedung yang punya tempat khusus dalam sejarah Jakarta: Sarinah. Sebagai pusat perbelanjaan pertama di Indonesia, ia bukan mal biasa — dan setelah revitalisasi besar yang rampung pada 2022, Sarinah kembali dengan wajah modern yang tetap menghormati warisannya. Ini kisah dan panduannya.

Pusat perbelanjaan pertama Indonesia

Sarinah dibuka pada era 1960-an sebagai department store modern pertama di negeri ini — sebuah tonggak sejarah yang dulu jadi kebanggaan. Selama puluhan tahun, ia menjadi tempat berbelanja sekaligus penanda kota. Nama “Sarinah” sendiri diambil dari sosok pengasuh yang dikenang Presiden Soekarno, memberi gedung ini makna yang lebih dalam daripada sekadar tempat jual-beli.

Wajah baru setelah revitalisasi

Revitalisasi yang selesai pada 2022 mengubah Sarinah menjadi ruang yang jauh lebih modern dan lapang, tanpa kehilangan identitasnya. Relief bersejarah yang menghiasi gedung dipugar dan kembali dipamerkan sebagai bagian dari cerita. Kini Sarinah memosisikan diri bukan hanya sebagai mal, tapi sebagai panggung bagi produk dan kreativitas lokal.

Merayakan yang lokal

Inilah yang membuat Sarinah berbeda dari mal pada umumnya. Alih-alih hanya menampung merek global, Sarinah memberi ruang besar bagi produk UMKM, kerajinan, batik, dan karya kreatif dalam negeri. Ada pula area kuliner, ruang seni, dan acara komunitas yang membuat kunjungan terasa lebih hidup daripada sekadar belanja.

Lebih dari belanja

Dengan kafe, ruang pameran, dan agenda acara yang terus berganti, Sarinah kini menjadi tujuan nongkrong dan wisata perkotaan. Lokasinya strategis di kawasan Thamrin, dekat Bundaran HI dan mudah dijangkau dengan MRT — menjadikannya perhentian yang pas saat menjelajah pusat kota. Ia menawarkan pengalaman berbeda dari mal dan pasar lain di Jakarta.

Tips berkunjung

  • Gunakan MRT untuk akses mudah tanpa terjebak macet.
  • Sisihkan waktu melihat relief bersejarah dan area seninya.
  • Cari produk lokal dan UMKM sebagai oleh-oleh yang berkarakter.
  • Cek agenda acara komunitas yang sering digelar.

1962: Department Store Pertama dan Mimpi Soekarno

Sarinah bukan proyek ritel — ia proyek ideologi. Soekarno menggagasnya sebagai department store modern PERTAMA Indonesia (dibangun 1962-1966, dibuka 1966), sengaja menjulang 15 lantai sebagai pencakar langit awal Thamrin: pernyataan bahwa bangsa muda bisa punya etalase modern setara Tokyo-Paris — dan dinamai Sarinah, perempuan pengasuh masa kecil Bung Karno di Blitar; sang presiden menulis dalam memoarnya betapa Sarinah mengajarinya mencintai rakyat kecil. Nama itu adalah tesis: gedung megah yang menyandang nama rakyat jelata — ritel modern yang berpihak pada karya bangsa. Sejarahnya kemudian berliku (era emas, kebakaran, stagnasi dekade-dekade, hingga bom 2016 di kawasannya yang justru memunculkan solidaritas #KamiTidakTakut) — dan seluruh lika-liku itu membuat renovasi besarnya bukan sekadar bisnis: membenahi Sarinah adalah membenahi monumen.

Renovasi 2021: Patung yang Ditemukan dan Wajah Baru

Renovasi total (dibuka ulang 2022) mengubah Sarinah dari department store lelah menjadi ‘panggung karya Indonesia’ — dengan satu momen magis yang jadi berita nasional: saat dinding lama dibongkar, relief patung era Soekarno yang puluhan tahun tersembunyi ditemukan kembali — karya seni monumental menggambarkan kehidupan rakyat pedagang-petani, kini dipajang agung di area utama sebagai jantung spiritual gedung; berdiri di depannya adalah ritual wajib kunjungan. Wajah barunya dikurasi ketat: mayoritas tenant adalah merek lokal terpilih (fesyen designer Indonesia, kriya premium, kopi-kuliner nusantara), lantai UMKM dan panggung komunitas, rooftop dengan pemandangan Thamrin, serta desain interior yang mempertahankan DNA modernis 60-an. Hasilnya unik di peta ritel: satu-satunya ‘mal’ yang terasa seperti museum-butik kebangsaan — tempat oleh-oleh untuk tamu negara dan tempat anak muda berburu brand lokal berdiri di lantai yang sama.

Panduan Berburu: Apa yang Layak Dibeli di Sarinah

Sarinah menjawab satu pertanyaan abadi dengan sempurna: ‘oleh-oleh Indonesia yang berkelas apa?’ Lantai kriya-pusaka: batik dari maestro dan rumah batik ternama (rentang harga cap hingga tulis kolektor — edukasi kainnya sendiri berharga; sandingkan dengan ilmu panduan batik), tenun NTT-Sumatera, kriya perak-kayu-anyaman terpilih dengan kurasi yang menyaring barang pasar. Fesyen lokal: label-label desainer Indonesia dan streetwear lokal premium — harga butik, kualitas yang membuat bangga saat ditanya ‘beli di mana?’. Pangan artisan: kopi single origin nusantara, cokelat bean-to-bar Indonesia, rempah-teh kemasan elegan — oleh-oleh korporat paling aman sedunia. Strategi harga: ini bukan Tanah Abang — harga tetap dan sepadan kurasi; datang saat pameran tematik (rotasi daerah-event budaya rutin) untuk barang langka dan diskon halus. Untuk tamu asingmu: dua jam di Sarinah menyelesaikan seluruh daftar oleh-oleh dengan cerita di setiap barangnya.

Sarinah dalam Rute Kota: Simpul Thamrin yang Sempurna

Posisi Sarinah menjadikannya perhentian paling strategis poros ikon Jakarta. Akses: tepat di jalur MRT (stasiun berjarak langkah) dan TransJakarta koridor 1 — gedung ini kini contoh transit-oriented heritage. Rute klasik yang menempatkannya: Monas-Museum Nasional pagi → jalan kaki/1 halte ke Sarinah untuk makan siang + belanja ber-AC (jeda sempurna dari terik) → sore lanjut Bundaran HI berjalan kaki di trotoar lebar Thamrin → senja rooftop. Kuliner dalam: food hall kurasi nusantara (harga menengah masuk akal untuk kelasnya) dan kafe-kafe lokal — plus amfiteater luar yang sering menggelar musik-acara komunitas gratis sore-malam. Momen terbaik: hari kerja siang untuk belanja tenang, akhir pekan sore untuk denyut acara. Filosofi kunjungannya: di kota yang mal-nya seragam global, satu jam di Sarinah adalah pengingat bahwa ‘modern’ dan ‘Indonesia’ tak pernah harus dipilih salah satu — persis seperti mimpi pendirinya enam dekade silam.

Nama yang Dipilih Presiden: Sarinah Sang Pengasuh dan Pesannya

Nama gedung ini bukan akronim atau merek — ia penghormatan paling personal yang pernah diberikan Sukarno pada sebuah bangunan: Sarinah adalah nama pengasuh masa kecil sang proklamator di Blitar — perempuan desa sederhana yang oleh Sukarno dikenang sebagai guru pertamanya tentang cinta pada rakyat kecil (‘dari Sarinah aku belajar mencintai orang kecil,’ tulisnya); begitu dalam pengaruhnya hingga Sukarno menamai buku pemikirannya tentang peran perempuan dalam revolusi dengan judul Sarinah (1947) — dan ketika Indonesia membangun department store pertamanya, nama itu dipilih sebagai pesan: gedung modern ini didirikan BUKAN untuk elite, melainkan sebagai etalase kemajuan yang memihak rakyat — tempat produksi bangsa sendiri dipajang setara barang dunia. Pesan itu kini dihidupkan ulang: Sarinah pasca-renovasi memposisikan diri sebagai panggung UMKM dan merek lokal premium (kurasi kriya-wastra-kuliner nusantara di lantai-lantainya adalah realisasi paling literal dari mimpi awalnya). Berbelanja produk lokal di gedung ini, dengan begitu, adalah transaksi berlapis: kamu membayar barangnya, dan ikut melunasi janji seorang presiden pada pengasuhnya.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Kenapa Sarinah bersejarah?

Sarinah adalah pusat perbelanjaan atau department store modern pertama di Indonesia, dibuka pada era 1960-an.

Apa yang berubah setelah revitalisasi?

Setelah revitalisasi yang rampung pada 2022, Sarinah tampil lebih modern dan lapang, memugar relief bersejarahnya, serta memberi ruang lebih besar bagi produk lokal.

Apa yang bisa ditemukan di Sarinah?

Produk UMKM, kerajinan, batik, area kuliner, ruang seni, dan acara komunitas, selain gerai belanja.

Bagaimana menuju Sarinah?

Sarinah berada di kawasan Thamrin dan mudah dijangkau dengan MRT, dekat dari Bundaran HI.

Siapa Sarinah yang namanya diabadikan Soekarno?

Perempuan pengasuh masa kecil Bung Karno di Blitar yang mengajarinya mencintai rakyat kecil — nama rakyat untuk gedung modern pertama bangsa.

Apa kisah relief patung bersejarah di Sarinah?

Relief era Soekarno bertema kehidupan rakyat ditemukan kembali saat renovasi setelah puluhan tahun tersembunyi — kini dipajang sebagai jantung gedung.

Oleh-oleh apa yang paling layak dibeli di Sarinah?

Batik dan tenun terkurasi, kriya premium, fesyen desainer lokal, serta kopi-cokelat artisan nusantara — berkelas dengan cerita.

Siapa Sarinah yang menjadi nama gedung ini?

Pengasuh masa kecil Sukarno di Blitar — guru pertamanya mencintai rakyat kecil; namanya diabadikan di buku pemikirannya (1947) dan di department store pertama Indonesia.