Lewati ke konten
MizuvoxPanduan wisata, kuliner & gaya hidup Jakarta
Wisata

Vihara Dharma Bhakti Petak Sembilan: Kelenteng Tertua di Jakarta

Kelenteng dari pertengahan abad ke-17 di jantung Glodok: dupa raksasa, lilin merah, dan sejarah panjang komunitas Tionghoa Batavia.

Oleh Tim Redaksi Mizuvox · Diperbarui · 6 menit baca

vihara dharma bhakti petak sembilan kelenteng tertua di jakarta

Di balik keramaian pasar Petak Sembilan, Glodok, berdiri bangunan beratap melengkung dengan pintu kayu merah yang usianya melampaui hampir semua bangunan di Jakarta: Vihara Dharma Bhakti, dikenal luas dengan nama lamanya Kim Tek Ie atau Jin De Yuan. Asap dupa yang tak pernah benar-benar padam, lilin-lilin merah setinggi manusia, dan lantai batu yang terkikis ribuan langkah menjadikannya bukan sekadar objek wisata, melainkan rumah ibadah yang terus bekerja sejak pertengahan abad ke-17.

1650: Kelenteng yang Lebih Tua dari Gedung Mana Pun di Kota Tua

Kelenteng ini didirikan pada pertengahan abad ke-17 — catatan sejarah umumnya menyebut tahun 1650 — atas prakarsa seorang perwira komunitas Tionghoa Batavia. Nama awalnya Koan Im Teng, merujuk pada Dewi Kwan Im (Avalokitesvara) yang menjadi dewi utama di altarnya; dari pengucapan teng itulah, menurut banyak penjelasan, lahir kata “kelenteng” yang kini dipakai di seluruh Indonesia untuk menyebut rumah ibadah Tionghoa. Sebagai perbandingan usia: bangunan ini sudah berdiri puluhan tahun sebelum balai kota Batavia yang kini menjadi Museum Fatahillah dirampungkan pada 1710. Ia menyaksikan Batavia berganti penguasa berkali-kali, kota berganti nama dua kali, dan kawasan di sekelilingnya berubah dari permukiman menjadi pusat perdagangan paling padat di Jakarta Barat.

Bertahan Melewati Tragedi: 1740, Kebakaran, dan Pemugaran

Riwayat bangunan ini terjalin dengan babak paling kelam sejarah kota. Pada 1740, kerusuhan besar yang menimpa warga Tionghoa Batavia turut menghancurkan kelenteng ini; bangunan kemudian dibangun kembali pada pertengahan 1750-an — dan struktur hasil pembangunan ulang itulah yang menjadi inti bangunan sekarang. Ujian berikutnya datang jauh belakangan: kebakaran besar pada Maret 2015 melalap bagian utama kelenteng, merusak atap dan sejumlah benda ibadah, dan sempat menimbulkan kekhawatiran bahwa salah satu bangunan tertua kota akan hilang. Proses pemugaran dilakukan bertahun-tahun dengan mempertahankan bentuk dan detail aslinya, sehingga kelenteng kembali berfungsi penuh. Bagi pengunjung, sejarah berlapis ini memberi makna tambahan: yang kamu lihat bukan bangunan yang beruntung selamat begitu saja, melainkan yang berkali-kali dibangun ulang oleh komunitas yang menolak kehilangannya.

Membaca Detail: Atap, Naga, dan Altar

Arsitekturnya mengikuti langgam kelenteng Tiongkok selatan yang dibawa para perantau. Atap pelana melengkung dengan ujung menjulang dihiasi ornamen naga dan mutiara api — motif yang bukan sekadar hiasan melainkan penanda status dan doa. Pilar-pilar kayu menopang struktur utama, dengan ukiran dan papan-papan bertuliskan aksara Tionghoa yang sebagian merupakan sumbangan donatur dari berbagai zaman — membacanya seperti membaca daftar penyumbang lintas abad. Di dalam, altar utama dipersembahkan kepada Kwan Im, dikelilingi altar-altar untuk dewa-dewi lain sesuai tradisi Tri Dharma yang memadukan unsur Buddha, Tao, dan Konghucu — ciri khas kelenteng Indonesia. Perhatikan pula tempat pembakaran kertas doa, tungku dupa raksasa di halaman, serta lilin-lilin merah besar yang dinyalakan umat; nyala lilin dengan nama pemohon di badannya adalah salah satu pemandangan paling ikonik di sini.

Imlek dan Cap Go Meh: Ketika Kawasan Menyalakan Dirinya

Dua momen membuat kelenteng ini menjadi pusat perhatian nasional. Malam Imlek: umat berdatangan sejak sore untuk bersembahyang, lilin-lilin raksasa dinyalakan, dan suasana di dalam berubah menjadi lautan cahaya di tengah kabut dupa — salah satu pemandangan paling fotogenik yang dimiliki Jakarta, dan salah satu yang paling ramai. Cap Go Meh, lima belas hari sesudahnya, menutup rangkaian dengan perayaan yang meluber ke jalanan Glodok: barongsai, liong, dan kerumunan yang memenuhi gang-gang pasar. Pada hari-hari ini, kawasan sekitar ditutup sebagian, pedagang musiman bermunculan, dan kelenteng menerima pengunjung dari berbagai latar — termasuk warga non-Tionghoa yang datang menonton. Saran praktis: bila tujuanmu beribadah atau meliput, datanglah; bila tujuanmu mengagumi arsitektur dengan tenang, justru hindari dua tanggal ini dan pilih pagi hari biasa ketika kelenteng lengang dan cahaya masuk miring lewat pintu utama.

Adab Berkunjung ke Rumah Ibadah yang Aktif

Kelenteng ini terbuka untuk pengunjung, tetapi ia tetap tempat orang berdoa. Berpakaian sopan dan bersuara rendah; jangan berdiri membelakangi altar untuk berfoto selfie, dan jangan menghalangi umat yang sedang bersembahyang. Jangan menyentuh perlengkapan ibadah, dupa milik orang lain, atau persembahan di altar. Foto umumnya diperbolehkan di area umum — tetapi hindari memotret wajah umat dari dekat tanpa izin, dan matikan lampu kilat di dalam ruangan. Bila ingin ikut menyalakan dupa sebagai bentuk penghormatan, tanyakan lebih dulu kepada pengurus; banyak pengunjung melakukannya dan umumnya disambut ramah, tetapi bertanya adalah bentuk hormat yang paling dasar. Terakhir, siapkan uang kecil untuk kotak sumbangan pemeliharaan — perawatan bangunan kayu berusia ratusan tahun di iklim tropis bukan pekerjaan murah.

Lorong Petak Sembilan: Pasar, Kuliner, dan Kelenteng Tetangga

Kunjungan ke sini nyaris tidak lengkap tanpa menyusuri kawasan di sekitarnya. Pasar Petak Sembilan membentang di gang-gang sempit menuju kelenteng: penjual buah untuk sembahyang, perlengkapan ibadah, obat tradisional, sayur, ikan, dan daging — pasar basah yang riuh dan sangat fotogenik, dengan catatan bahwa sebagian dagangan mungkin tidak nyaman bagi pengunjung tertentu, termasuk produk non-halal yang lazim di kawasan ini. Gang Gloria di dekatnya adalah legenda kuliner Jakarta — deretan kios kopi tua, bakmi, dan jajanan yang sebagian sudah berdagang lintas generasi. Di kawasan yang sama terdapat pula kelenteng dan vihara lain yang lebih kecil, sehingga kamu bisa membandingkan langgam dan suasananya. Untuk gambaran menyeluruh kawasan ini, panduan Glodok memetakan rute jalan kakinya.

Akses, Jam, dan Menyusun Rute Sejarah Barat

Kelenteng berada beberapa menit berjalan kaki dari kawasan Glodok, yang terhubung baik dengan jaringan transportasi umum — stasiun komuter Jakarta Kota dan halte-halte bus kota di sekitarnya menjadikannya salah satu situs bersejarah paling mudah dicapai tanpa kendaraan pribadi. Datang pagi hari memberi tiga keuntungan sekaligus: pasar sedang paling hidup, kelenteng masih lengang, dan udara belum menyengat. Tidak ada tiket masuk; yang diperlukan hanyalah sikap hormat. Rute setengah hari yang teruji: pagi di pasar dan kelenteng Petak Sembilan, siang berjalan atau naik ojek singkat ke Kota Tua untuk museum-museumnya, lalu sore menutup hari di kawasan Kali Besar. Dalam satu hari, kamu menyusuri tiga lapis sejarah kota: komunitas Tionghoa, pemerintahan kolonial, dan kanal dagang yang menghubungkan keduanya.

Kelenteng dan Vihara Lain yang Layak Dikunjungi

Bila kunjungan ini memicu rasa ingin tahu, Jakarta menyimpan sejumlah rumah ibadah Tionghoa lain dengan karakter berbeda-beda. Di kawasan yang sama: beberapa kelenteng dan vihara berukuran lebih kecil tersebar di gang-gang Glodok dan Pecinan, sebagian menempati bangunan tua dengan altar yang dipersembahkan kepada dewa-dewi berbeda — berjalan kaki dari satu ke yang lain memberi gambaran betapa beragamnya tradisi yang dibawa para perantau dari berbagai wilayah Tiongkok selatan. Di Jakarta Utara: kawasan pesisir memiliki kelenteng-kelenteng tua yang berkaitan dengan tradisi pelaut dan perdagangan laut, termasuk yang memuliakan dewi pelindung pelayaran — konteks yang masuk akal bagi kota yang lahir sebagai pelabuhan. Vihara modern berskala besar juga berdiri di beberapa kawasan dengan arsitektur yang jauh berbeda dari kelenteng tua. Adab yang berlaku di semuanya sama: berpakaian sopan, bersuara rendah, tidak menghalangi umat, tidak menyentuh perlengkapan ibadah, dan memotret dengan hormat tanpa lampu kilat. Waktu terbaik: pagi hari biasa untuk ketenangan, atau menjelang Imlek dan Cap Go Meh bila ingin menyaksikan kemeriahannya — dengan catatan kepadatan saat itu membuat pengamatan arsitektur nyaris mustahil.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Berapa usia Vihara Dharma Bhakti?

Didirikan pada pertengahan abad ke-17 (umumnya disebut 1650), menjadikannya kelenteng tertua di Jakarta — lebih tua daripada gedung balai kota Batavia yang kini menjadi Museum Fatahillah.

Kapan waktu terbaik berkunjung ke kelenteng ini?

Pagi hari biasa bila ingin suasana tenang dan cahaya bagus; Imlek dan Cap Go Meh sangat meriah tetapi juga sangat padat, sehingga kurang nyaman untuk mengamati arsitektur.

Apakah pengunjung non-Tionghoa boleh masuk?

Boleh, dengan adab rumah ibadah: berpakaian sopan, bersuara rendah, tidak menghalangi umat yang bersembahyang, tidak menyentuh perlengkapan ibadah, dan memotret tanpa lampu kilat.

Adakah kelenteng lain di Jakarta selain Dharma Bhakti?

Ada — beberapa kelenteng dan vihara kecil tersebar di gang-gang Glodok, serta kelenteng tua di kawasan pesisir utara yang berkaitan dengan tradisi pelaut dan perdagangan laut.