Ondel-ondel: Ikon Budaya Betawi yang Ceria

Kamu mungkin pernah melihatnya di acara kota atau pernikahan: boneka setinggi lebih dari dua meter dengan wajah mencolok, menari diiringi musik. Itu ondel-ondel, ikon budaya Betawi yang ceria — tapi di balik penampilannya yang meriah tersimpan makna yang dalam. Ini kisahnya.
Bukan sekadar hiburan
Secara tradisional, ondel-ondel dipercaya sebagai penolak bala — pelindung kampung dari roh jahat dan gangguan. Ia biasa hadir berpasangan: yang berwajah merah melambangkan laki-laki, yang berwajah putih melambangkan perempuan. Pasangan ini melambangkan keseimbangan.
Cara pembuatannya
Rangka ondel-ondel dibuat dari anyaman bambu agar ringan diarak, dengan wajah dari kayu atau bahan ringan dan hiasan kepala berumbai warna-warni yang disebut kembang kelapa. Seseorang masuk ke dalam rangka dan menggerakkannya — itulah kenapa ia bisa “menari”.
Dari ritual ke perayaan
Kini ondel-ondel lebih sering hadir sebagai hiburan di festival budaya, pernikahan, dan acara resmi kota, diiringi musik gambang kromong. Kamu bisa menemuinya di kawasan budaya seperti Setu Babakan dan berbagai festival Jakarta. Berbagai sanggar terus melestarikannya agar tak punah.
Yang perlu diketahui
- Ondel-ondel biasa tampil berpasangan (merah dan putih).
- Rangkanya dari bambu, digerakkan orang di dalamnya.
- Iringan khasnya adalah musik gambang kromong.
- Paling mudah dijumpai di festival dan kawasan budaya Betawi.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa fungsi asli ondel-ondel?
Secara tradisional sebagai penolak bala dan pelindung kampung, sebelum berkembang menjadi hiburan budaya.
Kenapa ondel-ondel berpasangan?
Sepasang berwajah merah (laki-laki) dan putih (perempuan) melambangkan keseimbangan.
Terbuat dari apa ondel-ondel?
Rangka dari anyaman bambu, wajah dari kayu atau bahan ringan, dengan hiasan kepala kembang kelapa.
Di mana bisa melihat ondel-ondel?
Di festival budaya, acara kota, dan kawasan budaya Betawi seperti Setu Babakan.