Es Selendang Mayang: Penyegar Betawi Kuno yang Nyaris Terlupakan
Lapisan kue kenyal merah-putih-hijau dalam santan dan gula merah — minuman Betawi tempo dulu yang layak diselamatkan lidah generasi baru.
Oleh Tim Redaksi Mizuvox · Diperbarui · 6 menit baca

Sebelum ada boba dan es kopi kekinian, orang Betawi punya penyegar yang tampilannya justru lebih cantik: es selendang mayang. Potongan kue kenyal berlapis merah muda, putih, dan hijau — disebut menyerupai selendang penari — mengambang dalam kuah santan dan gula merah cair. Minuman tempo dulu ini kini langka, dan justru karena itu makin berharga.
Apa itu selendang mayang
Kue-nya dibuat dari tepung beras (kadang dicampur hunkwe) yang dimasak menjadi adonan padat lembut, diberi warna berlapis, lalu didinginkan dan diiris tipis lebar. Irisan "selendang" ini disajikan dengan es serut, santan gurih, dan gula merah cair. Teksturnya unik: lembut kenyal seperti puding padat, meluncur segar bersama kuah manis-gurih.
Nama yang puitis
Nama "selendang mayang" mencerminkan kecantikan tampilannya — selendang untuk lapisan warnanya yang seperti kain penari, mayang merujuk pada kecantikan dalam khazanah lama. Minuman ini dulu akrab di hajatan dan keseharian kampung Betawi, dijajakan pikulan keliling — pemandangan yang kini nyaris hilang dari jalanan Jakarta.
Kenapa makin langka
Seperti nasi ulam dan kuliner Betawi lain, penjual es selendang mayang menyusut dari generasi ke generasi — kalah cepat dari minuman modern yang lebih praktis dibuat. Kini ia paling mudah ditemui di kawasan budaya seperti Setu Babakan, festival Betawi, kawasan Kota Tua, dan segelintir penjaja legendaris yang bertahan.
Rasa yang layak diselamatkan
Sekali mencoba, kamu akan paham kenapa minuman ini pantas dilestarikan: segarnya beda dari es modern — lebih lembut, gurih santannya nyata, manis gula merahnya dalam. Memesan segelas dari penjual yang tersisa adalah cara paling sederhana ikut menjaga warisan penyegar Betawi tetap hidup.
Tips
- Cari di Setu Babakan, Kota Tua, dan festival budaya Betawi.
- Santap segera selagi es belum mencair.
- Aduk perlahan agar santan dan gula menyatu.
- Dukung penjual tradisional yang tersisa.
Kue Cantik yang Diminum: Memahami Anatomi Selendang Mayang
Es selendang mayang adalah dessert Betawi yang bekerja di dua indera sekaligus: kue lapis tepung (beras-hunkwe-sagu aren sesuai mazhab keluarga) berwarna merah muda-putih-hijau dipotong lebar tipis menyerupai kain selendang — kenyal-lembut bak puding tradisional — lalu disiram kuah santan gurih + gula merah cair dan es batu: manis-gurih-dingin dengan tekstur yang tak dimiliki minuman mana pun (menyendok lembaran kenyal di antara kuah adalah pengalaman motorik yang menyenangkan — separuh minum, separuh makan kue). Nama puitisnya diwariskan lisan: ‘selendang’ dari bentuk-warna kainnya, ‘mayang’ merujuk bunga pinang muda — simbol kecantikan dalam idiom Betawi lama (‘mayang terurai’); satu gelas yang namanya saja sudah pantun. Usianya ditaksir seabad lebih — jajanan pikulan Betawi tempo dulu yang dijajakan keliling kampung; hari ini ia berstatus ganda: warisan yang nyaris hilang sekaligus primadona yang sedang pelan-pelan kembali.
Kenapa Nyaris Punah: Ekonomi Rumit di Balik Gelas Sederhana
Kelangkaan selendang mayang bukan soal selera — soal struktur. Masalah produksinya: kue lapisnya dibuat subuh (adonan tiga warna dimasak-dituang-didinginkan berlapis; keterampilan takaran yang menuntut jam terbang), TIDAK TAHAN LAMA (tanpa pengawet, wajib habis hari itu — musuh utama skala usaha), dan margin receh khas jajanan tradisional; generasi muda pewaris menghitung: kerja subuh + risiko basi + untung tipis = pindah profesi — matematika sedih yang sama dengan kerabat-kerabat kulinernya yang langka. Titik bertahannya: segelintir penjual pikulan legendaris di kantong tua (kawasan Kota-Glodok punya nama-nama pikulan yang jadi buruan media dan pemburu kuliner — bapak-bapak sepuh yang memikul dagangan sebagaimana ayah-kakek mereka), acara budaya Betawi, dan bulan Ramadan sang penyelamat tahunan: lapak takjil menghidupkan kembali produksinya se-Jabodetabek — bagi banyak warga muda, perkenalan pertama dengan selendang mayang justru terjadi di meja buka puasa; pintu masuk musiman yang menjaga nyala.
Kebangkitan Kecil: Dari Pikulan Tua ke Panggung Baru
Dekade terakhir membawa angin baik bagi sang selendang. Panggung budaya: Setu Babakan dan festival-festival Betawi menempatkannya sebagai menu wajib etalase warisan; pikulan legendaris Kota Tua menjadi konten media yang mengantarkan pembeli baru berdatangan (viralitas yang untuk sekali ini menyelamatkan, bukan merusak). Panggung modern: kafe-restoran Nusantara kekinian mengangkatnya ke menu dessert (gelas cantik, harga naik kelas — purist mengangkat alis, kas penjual tradisional ikut terangkat karena permintaan kue lapisnya dipasok dari dapur-dapur lama), katering hajatan Betawi menghidupkan kembali tradisi menyajikannya, dan UMKM frozen-fresh menjualnya daring per boks. Cara mendukung yang benar: beli dari pikulan-dapur asli saat bertemu (tanya kisahnya — para penjual sepuh adalah arsip berjalan yang senang bercerita), jadikan menu wajib takjil Ramadan keluargamu, dan sajikan di acaramu — setiap gelas yang tampil di hajatan adalah iklan warisan bagi tamu yang belum kenal.
Membuat Sendiri: Resep Kerangka Sang Selendang
Kabar baik: selendang mayang adalah warisan langka yang justru RAMAH dapur rumah. Kue lapisnya: larutan tepung hunkwe+beras (plus sagu aren di mazhab tertentu) dengan gula-garam-daun pandan dimasak hingga kental meletup, dibagi tiga: putih polos, merah muda (pewarna alami/food grade), hijau (pandan-suji); tuang berlapis di loyang — tiap lapis setengah set sebelum lapis berikutnya (kesabaran lima menit antar lapis adalah seluruh kesulitannya) — dinginkan, potong lebar tipis ala selendang. Kuahnya: santan segar dimasak garam-pandan (jaga jangan pecah), gula merah dilelehkan terpisah dengan sedikit jahe di mazhab penghangat. Perakitan: lembaran kue + siram santan + gula merah + es batu/serut — dan hidangkan pada orang yang lebih tua sambil menunggu wajah mereka: ‘ini… dulu ada yang mikul lewat rumah nenek’ — kalimat itu, yang hampir selalu muncul, adalah alasan sesungguhnya resep ini layak dimasak; selendang mayang bukan sekadar dessert — ia mesin waktu bergula merah, dan dapurmu bisa jadi stasiunnya.
Merah-Putih-Hijau di Gelas: Membaca Posisi Selendang Mayang di Keluarga Minuman Betawi
Dudukkan selendang mayang di antara kerabatnya dan keunikannya makin terang. Keluarga minuman manis Betawi punya pembagian tugas: bir pletok adalah divisi hangat-rempah (malam, obrolan panjang), es cendol/dawet divisi butiran kenyal-gula aren, es doger-campur divisi pesta serutan — dan selendang mayang berdiri sendiri sebagai divisi ‘kue yang diminum’: satu-satunya yang isinya LAPISAN kue kenyal lebar (adonan tepung beras/hunkwe berlapis merah-putih-hijau yang diiris tipis seperti kain — itulah ‘selendang’-nya), disiram santan gurih dan gula merah cair. Warna-warninya pun bukan genit belaka: merah-putih-hijau adalah palet klasik kue Betawi (merah muda dari sirup/pewarna tradisional, hijau dari pandan-suji) yang menandai makanan perayaan — selendang mayang lahir sebagai suguhan hajatan sebelum turun ke pikulan keliling. Konsekuensi praktis untuk penikmat: teksturnya adalah segalanya — potongan yang benar terasa lembut-kenyal membelah di lidah (bukan keras kaku kelamaan, bukan hancur lembek); dan cara makan yang benar memakai sendok LUAS pelan-pelan: ini kue yang menyamar minuman — memperlakukannya seperti es teh adalah salah membaca kepribadiannya.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa itu es selendang mayang?
Minuman Betawi berisi irisan kue kenyal berlapis warna dalam kuah santan, gula merah, dan es serut.
Kenapa dinamai selendang mayang?
Lapisan warna kuenya menyerupai selendang penari, dengan "mayang" yang bermakna kecantikan.
Di mana bisa menemukannya?
Di Setu Babakan, kawasan Kota Tua, festival Betawi, dan penjaja tradisional yang tersisa.
Kenapa minuman ini langka?
Penjualnya menyusut antargenerasi, kalah dari minuman modern yang lebih praktis.
Dari mana asal nama es selendang mayang?
“Selendang” dari lembaran kue tiga warna yang menyerupai kain; “mayang” dari bunga pinang — idiom kecantikan Betawi lama.
Kenapa es selendang mayang menjadi langka?
Kue lapisnya dibuat subuh, tak tahan lama tanpa pengawet, margin receh — matematika yang membuat generasi penerus pindah profesi.
Di mana masih bisa menemukannya?
Pikulan legendaris kawasan Kota Tua-Glodok, Setu Babakan, festival Betawi, dan lapak takjil Ramadan sang penyelamat tahunan.
Apa bedanya selendang mayang dari cendol dan es Betawi lain?
Ia satu-satunya ‘kue yang diminum’: lapisan kue kenyal merah-putih-hijau yang diiris seperti selendang lalu disiram santan-gula merah — lahir sebagai suguhan hajatan sebelum turun ke pikulan.