Lewati ke konten
MizuvoxPanduan wisata, kuliner & gaya hidup Jakarta
Kuliner

Gultik: Gulai Tikungan Blok M, Legenda Makan Malam Kaki Lima

Sepiring kecil nasi gulai sapi di tikungan Blok M yang jadi ritual malam anak Jakarta Selatan — murah, hangat, dan penuh cerita.

Oleh Tim Redaksi Mizuvox · Diperbarui · 6 menit baca

Gultik: Gulai Tikungan Blok M, Legenda Makan Malam Kaki Lima

Namanya singkatan yang sangat Jakarta: gultik — gulai tikungan. Julukan ini merujuk pada deretan penjual nasi gulai sapi yang mangkal di tikungan kawasan Blok M, Jakarta Selatan, sejak puluhan tahun lalu. Dari tempat sesederhana itu, gultik tumbuh menjadi legenda makan malam yang menyatukan anak motor, pekerja kantoran, hingga selebritas.

Apa yang disajikan

Konsepnya sederhana: sepiring kecil nasi disiram kuah gulai sapi yang gurih dengan potongan daging. Porsi mungilnya adalah bagian dari budayanya — satu piring adalah pembuka, dan memesan dua-tiga piring adalah hal biasa. Tambahannya sate usus atau kikil bagi yang ingin, plus sambal dan kerupuk. Harga per piringnya tetap ramah kantong hingga kini.

Ritual selepas malam

Gultik hidup di jam ketika restoran mulai tutup. Para penjual buka sore hingga larut, dan justru makin ramai menjelang tengah malam — disinggahi mereka yang pulang nonton, nongkrong, atau sekadar lapar tengah malam. Duduk di bangku plastik pinggir jalan, sepiring gulai hangat di tangan, lalu lalang Blok M di depan mata: itulah pengalaman gultik yang sebenarnya.

Kenapa bertahan puluhan tahun

Resepnya konsisten, harganya jujur, dan lokasinya melekat pada memori kolektif Jakarta Selatan. Kebangkitan Blok M berkat MRT dan ruang kreatif seperti M Bloc justru mengenalkan gultik ke generasi baru — kini ia jadi penutup wajib setelah menonton musik atau nongkrong di kawasan itu.

Cara menikmati ala pelanggan setia

Pesan satu piring dulu untuk kalibrasi, tambah sesuai selera. Aduk sambal ke kuah, gigit kerupuk di sela suapan, dan jangan buru-buru — gultik adalah makanan yang dinikmati sambil mengobrol. Ini bagian dari wisata malam Jakarta yang paling otentik dan merakyat.

Tips

  • Datang malam untuk suasana gultik yang sebenarnya.
  • Mulai satu piring; menambah adalah tradisi.
  • Coba tambahan sate usus atau kikil.
  • Bawa uang tunai dan siap duduk lesehan bangku plastik.

Tikungan yang Menjadi Legenda: Sejarah Gultik Blok M

Gultik — akronim jalanan untuk gulai tikungan — lahir dari geografi paling sederhana: sejak era 1980-90an, pedagang gulai sapi kaki lima mangkal di tikungan-tikungan sekitar Blok M-Mahakam; anak-anak nongkrong era itu (generasi kaset dan motor) menamai tempat janjian mereka apa adanya: ‘makan gulai di tikungan’ → ‘gultik’ — dan nama pasar itu mengalahkan semua nama resmi; kini puluhan pedagang (banyak dari dinasti perantau Jawa yang sama, beberapa generasi kedua-ketiga) berjejer tiap malam di trotoar legendaris tersebut, menjadikan gultik institusi kuliner malam selatan yang bertahan melewati semua tren: dari era Blok M jaya, mati suri, hingga kebangkitan MRT-M Bloc — anak skena hari ini makan di trotoar yang sama tempat om-tante mereka pacaran dulu; kontinuitas receh yang diam-diam mengharukan.

Anatomi Sepiring Gultik: Kecil, Murah, dan Sengaja Begitu

Gultik punya format baku yang menolak berubah: piring kecil nasi porsi tanggung disiram gulai sapi encer-gurih (kuah santan ringan berbumbu halus — lebih tipis dari gulai Padang, sengaja: ini gulai minum, bukan gulai lauk berat) dengan irisan daging sapi secukupnya, taburan bawang goreng, dan kerupuk-sate usus/telur puyuh sebagai wingman opsional; sambal kecap rawit disediakan untuk kalibrasi pribadi. Filosofi porsinya adalah fiturnya: satu piring gultik BUKAN makan malam — ia satuan sosial; protokol resminya nambah (dua-tiga piring adalah standar kehormatan, empat adalah pernyataan, dan menghitung tumpukan piring di akhir adalah ritual tawa rombongan — sistem kasir paling jujur: bayar per piring terhitung). Harga per piringnya tetap salah satu yang termurah di Jakarta Selatan yang mahal — keajaiban ekonomi tikungan yang membuatnya demokratis: anak SMA, pekerja pulang gigs, dan pemilik mobil Eropa duduk di bangku plastik yang sama, dihitung piring yang sama.

Ritual Malam Gultik: Jam, Bangku Plastik, dan Budayanya

Gultik adalah liturgi malam dengan aturannya sendiri. Jam hidup: pedagang menggelar selepas magrib, denyut puncak 21.00-01.00 (jam pulang bioskop-gigs-nongkrong), dan bertahan hingga menjelang subuh di akhir pekan — gultik jam 2 pagi adalah penutup resmi malam Blok M sejak tiga dekade. Tata caranya: pilih lapak mana pun (rasa antar pedagang bersaudara mirip — loyalitas lapak biasanya soal kebiasaan, bukan superioritas; tiap orang punya ‘abang gue’ yang dibela), duduk bangku plastik trotoar, sebut jumlah piring pembuka, dan biarkan malam mengalir — gultik adalah makanan yang MENEMANI obrolan, bukan menghentikannya. Budaya khasnya: ia netral-semua-suasana — perayaan gajian, penutup patah hati, rapat kecil komunitas motor, hingga kencan hemat paling teruji di selatan (dibahas juga di ide kencan hemat); dan aturan tak tertulis paling penting: tidak ada gengsi di tikungan — semua orang makan gulai receh dengan bahagia, dan siapa pun yang datang sombong akan pulang tetap kenyang tapi kesepian.

Gultik Sebagai Model: Pelajaran Ekonomi Kaki Lima yang Bertahan 40 Tahun

Bagi pengamat kota, gultik adalah studi kasus keberlanjutan kaki lima yang layak ditiru. Rahasia bertahannya: spesialisasi total (satu menu dikerjakan sempurna puluhan tahun — fokus adalah benteng), klaster yang menguatkan (puluhan pedagang serupa justru MEMBESARKAN pasar bersama — ‘ke gultik’ adalah destinasi, bukan ‘ke lapak si A’; pelajaran anti-intuitif tentang kompetisi), harga psikologis receh yang dijaga lintas dekade (naik pelan seirama, tak pernah mengkhianati posisinya), jam malam yang mengisi celah pasar kosong, dan simbiosis dengan ekosistem kawasan (bioskop-gigs-nongkrong memasok pelanggan; gultik memasok alasan pulang larut). Ancamannya klasik: penertiban trotoar dan regenerasi — sejauh ini keduanya dinegosiasikan zaman demi zaman. Perannya kini: di tengah Blok M yang makin trendi (kopi artisan, ramen, listening bar), gultik adalah jangkar kelas rakyatnya — pengingat bahwa kawasan legendaris tetap legendaris justru karena semua kelas punya kursinya; selama piring-piring kecil itu masih ditumpuk dan dihitung sambil tertawa di tikungan, Blok M belum kehilangan jiwanya.

Gultik di Era Blok M Baru: Legenda Lama di Tengah Kebangkitan Kawasan

Ada simetri yang indah sedang terjadi: saat Blok M lahir kembali sebagai kawasan anak muda (MRT membawa arus baru, ruang-ruang kreatif menghidupkan gedung tua, taman literasi dan kedai-kedai baru bermunculan), para pedagang gulai tikungan yang telah bertahan sejak era 80-an mendadak mendapat pasar generasi ketiga — dan pemandangan malamnya kini adalah lintas zaman yang utuh: rombongan pensiunan yang gultikan sejak masih SMA duduk bersebelahan dengan gen Z yang baru turun dari MRT, sama-sama menekuk lutut di bangku plastik yang sama. Posisi gultik di ekosistem baru ini strategis: ia ‘makanan penutup malam’ resmi kawasan — setelah nonton pertunjukan, setelah nongkrong kedai, setelah konser kecil, semua arus manusia Blok M bermuara ke tikungan yang sama karena logikanya abadi: porsi kecil (masih muat setelah makan sebelumnya), harga receh (dompet sudah tipis di penghujung malam), dan buka sampai jauh larut. Pelajaran urbanismenya layak dicatat: revitalisasi kawasan terbaik bukan yang mengganti pedagang lama dengan tenant baru — melainkan yang mengalirkan pelanggan baru ke pedagang lama; Blok M, sejauh ini, sedang melakukannya dengan benar — dan gultik adalah buktinya yang paling lezat.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa itu gultik?

Gulai tikungan — nasi porsi kecil disiram gulai sapi, dijual deretan kaki lima di tikungan Blok M.

Kenapa porsinya kecil?

Itu bagian budayanya; pelanggan biasa memesan dua hingga tiga piring.

Kapan gultik buka?

Sore hingga larut malam, dan justru makin ramai menjelang tengah malam.

Berapa harga gultik?

Tetap ramah kantong per piringnya, salah satu makan malam termurah di Jakarta Selatan.

Dari mana asal nama gultik?

Akronim “gulai tikungan” — sejak 80-90an pedagang gulai mangkal di tikungan Blok M-Mahakam dan anak nongkrong menamainya apa adanya.

Kenapa porsi gultik sengaja kecil?

Satu piring adalah satuan sosial, bukan makan berat — nambah 2-3 piring adalah standar, dan tumpukan piring dihitung sebagai kasir jujur.

Jam berapa gultik paling hidup?

Puncaknya 21.00-01.00 selepas bioskop dan gigs — bertahan hingga menjelang subuh di akhir pekan sebagai penutup resmi malam Blok M.

Kenapa gultik tetap ramai di era Blok M yang baru?

MRT dan ruang kreatif membawa generasi baru yang bermuara ke tikungan yang sama — porsi kecil, harga receh, buka larut: logika ‘penutup malam’ yang abadi lintas zaman.